EUPHORIA KELULUSAN

EUPHORIA KELULUSAN

Istilah euphoria merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Secara etimologi euphoria berasal dari kata “euphoros” dalam bahasa Yunani yang berarti sehat atau keadaan yang secara fisik dihayati sebagai sesuatu yang menyenangkan atau keadaan emosi gembira yang berlebihan. Dalam ilmu psikologi, euphoria diartikan sebagai rasa bahagia yang meluap-luap secara berlebihan dan terjadi terus menerus dalam waktu singkat yang timbul karena sebuah situasi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga situasi baru tersebut diterima seseorang sebagai sesuatu yang menakjubkan.

Kata lulus mungkin menjadi begitu berharga bagi setiap peserta didik yang telah menempuh ujian akhir. Jika tidak lulus, hasil belajar selama tiga tahun sia-sia belaka dan jika lulus, hasil belajar terasa sangat bermakna. Sebagai ungkapan rasa syukur atas capaian kelulusan yang telah dilewati dengan penuh kekhawatiran, sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang tidak sampai memberikan efek buruk pada dunia pendidikan. Namun sepertinya setiap tahun selalu saja diwarnai dengan aksi yang tidak terpuji dari peserta didik yang merayakan kelulusan. Orang tua, pendidik dan masyarakat selalu dikejutkan dengan berbagai peristiwa yang dipandang melanggar norma sehingga tidak mencerminkan nilai-nilai karakter yang diberikan selama mereka di madrasah, sebagai sampel tahun 2018 pengumuman kelulusan Ujian Nasional diwarnai aksi coret-coret pakaian seragam madrasah, konvoi di jalan raya sampai kepada aksi yang mengerikan seperti yang dilihat di sosial media bahkan sampai ada yang merenggut nyawa. Merasa miris ketika melihat peserta didik perempuan yang dengan rela hati disentuh bagian-bagian sensitifnya oleh kawan laki-lakinya dengan nafsu. Merasa prihatin ketika peserta didik tak lagi merasa malu memamerkan kehebohan perayaan kelulusan di sosial media dengan aksi-aksi yang mengerikan. Keadaan seperti ini sebenarnya sudah diantisipasi oleh pihak madrasah dengan memberikan himbauan di setiap apel pagi, untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan dan mencemarkan nama baik madrasah namun nyatanya setiap tahun selalu terulang. Penanaman nilai-nilai karakter terkikis oleh euphoria kelulusan. Pemupukan jiwa revolusi mental di kalangan peserta didik yang ditempuh melalui pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran yang relevan nyaris tak membekas. Walaupun demikian, masih lebih banyak peserta didik yang mensyukuri kelulusannya dengan kegiatan-kegiatan yang positif, seperti yang dilakukan oleh peserta didik di MTS N 1 Kota Gorontalo, di saat pengumunan  hari Rabu tanggal 15 Juni 2022 pukul 16.00 Wita.

Pengumuman kelulusan secara virtual dan di tayangkan lewat live streming MTsN 1 Go TV, peserta didik wajib mengunakan baju busana muslim atau seragam almamater tercinta, saat pengumuman, membagikan baju seragam sekolah yang layak pakai, kegiatan ini dipantau dan di ikuti oleh seluruh wali kelas IX dan seluruh Civitas MTs N 1 Kota Gorontalo, para peserta didik melaksanakan sujud syukur pada saat pengumuman dilakukan. Apapun yang dilakukan oleh peserta didik sebagai ungkapan kebahagiaan kelulusan akan selalu dikembalikan kepada penyelenggara pendidikan. Kalau tidak sistem pembelajarannya, pasti gurunya yang dipersalahkan. Orang tua dan masyarakat seperti tidak sadar bahwa peserta didik berada dalam pengawasan guru hanya selama delapan jam saja, selebihnya berada dalam pengawasan orang tua. Karena orang tua sudah menyerahkan tugas dan tanggungjawabnya kepada madrasah untuk mendidik, maka seolah-olah orang tua terlepas dari penanaman nilai-nilai pendidikan. Padahal pendidikan adalah menjadi tanggungjawab bersama antara orang tua, masyarakat dan madrasah. orang tua merupakan pendidik utama dan pertama, oleh karena itu, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dan sangat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Semoga di pengumuman Ujian Madrasah di tahun 2022 ini akan lebih baik dan tidak diwarnai dengan hal-hal negatif, karena dalam hal ini, M. Ngalim Purwanto seorang tokoh pendidikan mengemukakan bahwa berhasil baik atau tidaknya pendidikan di sekolah bergantung pada dan dipengaruhi oleh pendidikan di dalam keluarga. Hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya yakni di madrasah dan masyarakat.

Sangat disayangkan, ketika acapkali muncul peristiwa yang diakibatkan degradasi moral dikalangan para pelajar selalu pendidik yang dipersalahkan. Ketika euphoria kelulusan menjadi hal yang memalukan bagi orang tua, madrasah dan masyarakat yang pertama kali ditanyakan adalah pelajar dari sekolah mana, bukan anaknya siapa. Hal ini menggambarkan bahwa pandangan masyarakat pada umumnya menjadikan madrasah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan yang dapat mencetak baik buruknya prilaku anak padahal tidak ada satu madrasahpun yang memiliki visi dan misi menghancurkan masa depan anak. Semua lembaga pendidikan diorientasikan kepada peningkatan kualitas pendidikan sehingga akan memberikan dampak positif terhadap kualitas lulusan. Semoga dengan bercermin dari euphoria kelulusan tahun-tahun sebelumnya dapat menjadikan pemikiran oleh seluruh praktisi pendidikan untuk melakukan perubahan sistem evaluasi pendidikan terhadap peserta didik menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan sebagaimana desain pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif peserta didik dalam suasana yang menyenangkan. Civitas MTs N 1 Kota Gorontalo mengucapkan selamat dan Sukses buat seluruh peserta didik yang lulus Tahun Pelajaran 2021/2022

 

*Sutarjo Paputungan, Penulis dan Pengiat Literasi, (Guru Fiqih MTs N 1 Kota Gorontalo)