Pendidikan Islam dan Tantangan Merdeka Belajar

Pendidikan Islam dan Tantangan Merdeka Belajar

   Penulis : H. Sutarjo Paputungan, M.Pd

   Penulis adalah Pengiat Literasi, Help Desk (HD) Nasional, dan Guru Fiqih, 

   MTs Negeri 1 Kota Gorontalo

   Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting untuk membentuk karakter para peserta didik sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia yang sempurna, yaitu manusia yang dikaruniai akal (pikiran) dan hati (perasaan: nafsu) yang dengannya manusia membetuk peradaban. Kemajuan Bangsa Indonesia secara tidak langsung sangat dipengaruhi oleh kemajuan serta keberhasilan proses Pendidikan Agama mulai dari Pendidikan Agama dalam keluarga, masyarakat sampai pendidikan formal di sekolah. Sebagai contoh dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam diajarkan tentang kejujuran dalam berbagai aspek kehidupan. Pembelajaran tentang kejujuran ini menjadi sangat penting karena negara kita sangat membutuhkan orang-orang yang jujur untuk menjadi pengelola negara ini, sehingga tatanan dalam kehidupan menjadi semakin baik.

Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh Mendikbud Nadiem Makarim adalah sebuah konsep yang harus disambut dengan baik sebagai sebuah tantangan untuk kemajuan Pendidikan Agama Islam yang akan berimbas pada kemajuan bangsa ini secara umum, dalam Islam pendidikan dimulai dari semenjak dalam kandungan dan berlangsung sepanjang hayat. “Merdeka Belajar” bermakna semua lembaga pendidikan yaitu sekolah, guru, peserta didik, memiliki kebebasan berinovasi, kebebasan untuk belajar mandiri dan kreatif. Ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia. Secara sederhana merdeka belajar adalah sebuah proses pembelajaran yang membebaskan dan tidak kaku, sesuai dengan bakat dan kemampuan serta sesuai dengan fitrah manusia dengan memberikan kebebasan bagi para pelakunya untuk berinovasi dalam mencapai tujuan yang ingin diwujudkan. Salah satu prinsip dakwah dan mendidik dalam Islam adalah “mudahkanlah setiap urusan dan jangan kalian mempersulit, buat mereka tenang dan jangan buat mereka lari”. Jika hal ini diterapkan dalam proses pendidikan, maka guru harus dapat menciptakan inovasi pembelajaran yang membuat peserta didik nyaman sekaligus menarik dan merasa haus akan pengalaman pembelajaran.

Dalam QS. Asy Syams ayat 8 disebutkan bahwa Allah mengilhamkan (memberikan) kepada jiwa manusia benih keburukan (kefasikan) dan benih ketakwaan. Sejalan dengan konsep merdeka belajar maka para Guru Pendidikan Agama Islam harus dapat menggali benih kebaikan yang menjadi fitrah manusia dalam kehidupan ini dan mengembangkannya dengan proses yang inovatif agar benih ini tumbuh subur menjadi karakter yang baik (akhlaqul karimah) yang akan sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa (contohnya jujur, adil, amanah, disiplin, dll). Maka disini perlu adanya sebuah sinergi antara: (1) Peserta didik, (2) Guru, (3) Orang Tua, dan (4) Masyarakat/lingkungan. Guru perlu membuat sebuah konsep inovatif untuk memfasilitasi peserta didik dalam belajar tanpa batasan waktu (tidak hanya pada jam pelajaran) dan tempat (tidak hanya disekolah). Oleh sebab itu, peran serta orang tua dan masyarakat untuk ikut mendidik peserta didik di luar sekolah sangat diperlukan, sehingga kolaborasi ini merupakan kerja keras bersama yang dilakukan secara konsisten untuk membuat perubahan bangsa ini. Selain itu diperlukan juga komitmen dari peserta didik untuk menjalani semua bentuk proses belajar.

Contoh sederhana dalam pembelajaran Agama Islam ada sebuah pembentukan karakter disiplin pada peserta didik, maka harus ada saling keterkaitan antara guru, orang tua dan masyarakat. Guru Pendidikan Agama Islam mengajarkan disiplin atas waktu melalui program salat tepat waktu (di awal waktu) secara berjamaah di masjid sekolah. Program ini perlu dirancang secara sistematis dan terukur kemudian disosialisasikan kepada orang tua agar dapat mengontrol serta mendampingi peserta didik agar konsisten dan disiplin menjalankan salat tepat waktu di lingkungan rumahnya. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah masyarakat tempat tinggal peserta didik yang harus menjalankan fungsi kontrol kepada peserta didik ketika berada di luar sekolah (di rumah) untuk selalu menjalankan salat jamaah di masjid tepat waktu dan bersama-sama menciptakan suasana yang nyaman bagi para peserta didik untuk dapat hadir dan salat jemaah di masjid.

Guru akan melakukan evaluasi dengan observasi apakah ada perubahan perilaku yang mengarah kepada karakter disiplin (misalnya disiplin waktu). Selanjutnya para peserta didik juga diberikan kesempatan untuk melakukan analisa dan evaluasi terhadap proses pembelajaran disiplin melalui salat berjemaah tepat waktu yang sudah dilaksanakan selama ini serta menyimpulkan berdasarkan pengalaman yang diperoleh agar muncul pemahaman dan kesadaran diri bahwa disiplin itu penting dan bermanfaat. Sehingga disini peserta didik benar-benar memahami dan menyadari manfaat serta pentingnya kedisiplinan.

Ketika karakter disiplin sudah muncul dalam diri peserta didik, maka karakter inilah yang nantinya akan membentengi para peserta didik ketika dewasa dan menjadi pemimpin bangsa ini, sehingga mampu menjadikan negeri ini lebih baik dan lebih maju. Semoga  guru selalu dapat meningkatkan kreativitasnya untuk berinovasi dalam mengelola pembelajaran, Pendidikan Agama Islam sehingga peserta didik senang dalam proses pembelajaran, dan apa yang menjadi target  dapat  tercapai,  yakni tercipta  generasi  yang  handal  dan berkarakter mulia, menjadikan bangsa Indonesia merdeka dalam pembelajaran.